Showing posts with label My Opinion. Show all posts
Showing posts with label My Opinion. Show all posts

IF TOMORROW NEVER COMES

Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya kulihat dirimu terlelap tidur, Aku akan menyelimutimu dengan lebih rapat dan berdoa kepada Tuhan agar menjaga jiwamu.
Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya kulihat dirimu melangkah keluar pintu, Aku akan memelukmu erat dan menciummu dan memanggilmu kembali untuk melakukannya sekali lagi.
Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya kudengar suaramu memuji, Aku akan merekam setiap kata dan tindakan dan memutarnya lagi sepanjang sisa hariku.
Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya, aku akan meluangkan waktu ekstra satu atau dua menit, Untuk berhenti dan mengatakan “Aku mencintaimu” dan bukannya menganggap kau sudah tahu.
Jadi untuk berjaga-jaga seandainya esok tak pernah datang dan hanya hari inilah yang kupunya,  Aku ingin mengatakan betapa aku sangat mencintaimu dan kuharap kita takkan pernah lupa.
Esok tak dijanjikan kepada siapa pun, baik tua maupun muda. Dan hari ini mungkin kesempatan terakhirmu untuk memeluk erat orang tersayangmu.
Jadi, bila kau sedang menantikan esok, mengapa tidak melakukannya sekarang?
Karena bila esok tak pernah datang, kau pasti akan menyesali hari.
Saat kau tidak meluangkan waktu untuk memberikan sebuah senyuman, pelukan atau ciuman. Dan saat kau terlalu sibuk untuk memberi seorang yang ternyata merupakan permintaan terakhir mereka.
Jadi, dekap erat orang-orang tersayangmu hari ini dan bisikkan di telinga mereka, bahwa kau sangat mencintai mereka dan kau akan selalu menyayangi mereka.
Luangkan waktu untuk mengatakan “Aku menyesal”, “Maafkan aku”, Terima kasih”, atau “aku tidak apa-apa”
Dan bila esok tak pernah datang, kau takkan menyesali hari ini.
Efesus 5:16 dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. (Kak Yudi)

JATUH BANGUN AKU MENGEJARMU


Maaf, judul ini bukan theme song-nya Jay Anak Metropolitan, atau lagu dangdut miliknya Meggy Z. Ini adalah persoalan yang sering dihadapi anak-anak Tuhan dalam mengiring Tuhan, melayani Tuhan dan melakukan kehendak Allah. Ini memang realita hidup selama kita masih menumpang di dunia ini. Tetapi tidak sedikit yang kemudian menjadi putus asa, berpaling dari Tuhan dan meninggalkan-Nya.
            Ketika gagal menjaga hati kita untuk tidak terpengaruh kefasikan dunia ini. Ketika kita jatuh dalam menjaga kekudusan hidup kita dan gagal memenuhi tuntutan Allah untuk hidup sesuai dengan firman-Nya, kita mulai menyesal, menangis dan minta ampun kepada Tuhan. Namun bila keadaan ini terjadi berulang-ulang, kita akan mulai berpikir: “Kira-kira apakah Tuhan masih mau mengampuni saya?” Mungkin kita juga akan bernyanyi seperti Victor Hutabarat: “Tuhan...masihkah Kau mau mendengarkan doaku...” Saya katakan, selama Tuhan masih mengingatkan Anda untuk bertobat, berarti Ia masih mau mengampuni Anda dan memulihkan Anda.
            Dalam mengiring Tuhan, kita, manusia lemah ini, tak lepas dari kegagalan. Kita jatuh, bangun, jatuh lagi, bangun lagi, bahkan kita sampai babak-bundas (luka-luka atau lecet-lecet, red). Tetapi bila kita masih memiliki semangat untuk bangkit kembali, maka Allah akan mengaruniakan Anda kekuatan yang baru. Itu sebabnya kita harus mengandalkan Allah dan bukan kekuatan diri sendiri (baca: Yer 17:5, 7). Yang diperlukan ketika kita jatuh hanyalah datang kepada Allah, mohon pengampunan dan pemulihan dari Allah. Jangan menjadi lemah dan malu, tetapi juga jangan menjadi bebal dan menyalah-gunakan kasih dan pengampunan Allah untuk berbuat dosa lagi.
            Ketika Simon Petrus gagal menjaga komitmennya untuk mati bersama Tuhan (Mar 14:31), bahkan menyangkali-Nya tiga kali, ia menangis dan bertobat. Lain halnya dengan Yudas, setelah sadar ia mengkhianati Tuhannya, ia malah memilih mati ketimbang memohon pengampunan kepada Allah (Mat 27:4-5). Selagi pintu tobat belum tertutup. Selagi Roh Kudus dengan lembut mengingatkan Anda yang telah jatuh untuk bertobat. Jangan keraskan hati untuk segera bertobat dan datang kepada Allah. Sekalipun Anda jatuh, Anda harus segera bangun. Ingatlah kata Tuhan dalam Mazmur 37:23-24 - TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya. Sadarilah bahwa Anda tidak berjalan sendiri. Allah ada di samping Anda dan selalu siap menolong Anda. Anda harus tetap survive, jangan menjadi lemah. Sekalipun merasa lemah, perih karena lecet ketika jatuh, Anda harus tetap semangat untuk bangkit kembali. Tidak peduli, jatuh bangun aku mengejar-Mu.......

BUKAN ORANGNYA, TAPI BAJUNYA ???


Seorang pengemis yang kelaparan sedang berdiri di depan sebuah restoran, berharap ada seorang dermawan yang memberinya makan. Di dalam restoran itu ada seorang langganan yang sedang memesan makanan. Badannya sedikit tambun mengenakan setelan safari. Ia adalah seorang pejabat negeri yang cukup dikagumi.

            Melihat pengemis yang berdiri di luar itu, pak pejabat merasa iba hatinya. Ia segera memanggilnya dan mengajaknya makan. Namun pemilik restoran itu melarangnya, bahkan mengusirnya. Walaupun pak pejabat itu sudah berusaha meminta, tetapi pemilik restoran itu tetap berkeras melarangnya dengan alasan akan membuat hilang selera makan seluruh langganannya. Akhirnya pak pejabat itu tidak jadi makan. Ia keluar laru menghampiri sang pengemis dan mengajaknya naik Toyota Crown-nya.
            Sekitar satu kilometer dari restoran itu pak pejabat mengajak sang pengemis bertukar baju. Pengemis itu disuruhnya memakai setelan safari yang tentu saja kebesaran karena tubuhnya kurus, sementara pak pejabat memakai pakaian pengemis yang sudah lusuh dan kumal. Ia menyuruh sopirnya mengantarkan pengemis itu kembali ke restoran dan tentu saja pemilik restoran itu langsung mempersilakannya masuk dan menyediakan hidangan yang ia pesan. Sesaat kemudian pak pejabat pun datang untuk memesan makanan di restoran itu dan tentu saja ia pun diusir oleh pemilik restoran itu seperti pengemis-pengemis lainnya.
            Saya akhiri cerita ini sampai di sini dan mengajak kita berefleksi sejenak. Anda pasti bertanya, apa yang hendak saya sampaikan dengan ilustrasi cerita di atas? Begini, kadangkala atau seringkali (kalau bisa dikatakan demikian) manusia itu hanya melihat yang di luar saja, hanya penampilannya saja, lebih tepatnya. Dan kita, gereja Tuhan, pengurus gereja, juga sering melakukan ‘tradisi’ ini. Menyambut hangat dan manis orang-orang memakai ‘setelan safari’ seperti pak pejabat tadi, tetapi ‘dingin’ dan acuh kepada orang-orang yang memakai pakaian ‘kumal’ seperti sang pengemis. Saya sudah sering melihat faktanya, lha wong saya pernah mengalaminya. Waktu itu saya diundang mengadakan KKR Natal di sebuah gereja.
            Saya datang mengenakan baju batik, bukan jas. Panitia sekedar menyalami dan membiarkan saya mencari tempat duduk sendiri dan saya langsung memilih tempat paling belakang. Kebetulan ketua panitia yang kenal saya datang terlambat karena beberapa urusan. Begitu tiba waktu renungan, kebetulan juga ketua panitia datang dan langsung menyambut saya dengan hangat dan mempersilakan saya naik ke mimbar. Saya tahu panitia yang lain pasti diomeli oleh ketua panitia karena tidak mempersilakan saya duduk di kursi ‘khusus’ yang sudah disediakan untuk pembicara KKR. Begitu pulang mereka minta maaf, saya hanya tersenyum. “Itu sudah biasa,” kata saya.
            Manusia memang cenderung berbuat itu, tetapi Firman Tuhan dalam Yakobus 2:1-9 menasihatkan kepada kita supaya kita tidak ‘memandang muka’ apalagi dalam perkumpulan jemaat, sebab itu adalah kejahatan di mata Allah. Sebagaimana Tuhan Yesus menyambut semua orang (terutama orang lemah dan menderita), seharusnya kita juga bersikap demikian. Kita harus “welcome” kepada semua orang. Kaya atau miskin, cantik, tampan, atau biasa saja, langsing atau gemuk, tinggi atau pendek, berpakaian bagus atau kusam, semua kita sambut dengan hangat. Itulah yang menyukakan hati Allah. Sebab bila kita mengabaikan “salah satu saudara kita yang paling hina ini” sama halnya kita telah mengabaikan Tuhan (bnd Mat 25:45).
            Jadi, marilah kita memandang bajunya, eh maaf, bukan bajunya tetapi orangnya (jiwanya) bagi Tuhan. Amin?***

AJI MUMPUNG


Pemimpin yang sederhana pada zaman sekarang ternyata tidak mudah ditemukan. Coba kita perhatikan para pemimpin di negara kita, entah itu yang duduk di parlemen, kabinet dan pejabat tinggi lainnya, berapa banyak yang bisa dijadikan teladan seorang pemimpin yang sederhana? Padahal kalau diperhatikan kehidupannya dahulu sebelum menjabat sebagai pimpinan, selalu menunjukkan hidup yang sederhana, bahkan ketika berkampanye dengan gencar mengkritik para pejabat yang hidup mewah dan menyalahgunakan uang negara. Tetapi apa yang terjadi pada saat ia berkesempatan duduk di kursi jabatan yang ‘empuk’ ? Ia menjadi lupa.
            Ketika mobil Kijangnya diganti dengan Corola, ia lupa pernah mengkritik mobil mewah yang dikendarai para anggota dewan. Ketika jas ‘kelas kaki lima’ berganti dengan jas ‘kelas Sogo’ ia mulai lupa untuk melihat ke bawah. Ketika gaji yang hanya ratusan ribu berganti puluhan juta, ia semakin ‘kemaruk’ (serakah: red). Itu saja belum cukup. Ia mulai menggunakan fasilitas pendidikan gratis untuk melanjutkan S1-nya yang pernah mandek, padahal seharusnya dana itu diberikan kepada anak bangsa yang tidak mampu membiayai uang sekolah. Bukan cuma itu, ia mulai suka jalan-jalan ke luar negeri yang tentu saja memakai anggaran negara. Ia menjadi lupa, lupa dan lupa. Lupa bagaimana dulu ia pernah ‘vocal’ dan jago membuat sindiran. Bahkan sekarang ia lupa seperti apa rasanya malu. Bayangkan membuat ‘kamar kecil’ yang seharusnya hanya menghabiskan beberapa juta rupiah saja, bisa menjadi ratusan juta. Bukankah benar memang sudah lupa rasanya malu? Yang ada dalam benaknya hanya kata “mumpung.”  Mumpung aku di atas, mumpung aku bisa, mumpung ada yang dimakan, dst.
            Hal serupa bisa saja terjadi dalam lingkungan gereja. Kemerosotan moral seperti ini pun tidak jarang kita jumpai pada jajaran kepemimpinan gereja. Pengerja yang dulu nampak kampungan dan selalu mengkritik gembalanya karena memiliki gaya hidup yang menurutnya tidak sepatutnya dimiliki oleh hamba Tuhan, sekarang berbalik 90 derajat. Ia mulai senang memakai jas yang licin, senang menggenggam ponselnya dan menyaringkan suaranya di mana saja. Ironis sekali bukan?
            “Hamba Tuhan kecil” ini mulai berlagak seperti “hamba Tuhan besar”. Apalagi bila gembala seniornya mulai memberi kepercayaan untuk menggantikan posisinya dalam urusan harian di gereja, karena gembala senior terlalu sibuk dengan pelayanan ke luar. Dia mulai menjadi ‘bos kecil’ yang berkuasa. Ia mulai memerintah dengan semena-mena para pekerja yunior. Kemana-mana naik mobil gereja dengan sopir pribadi. Ia mulai suka membentak bila urusan gereja tidak beres, berlaku tidak adil dan mulai mensejahterakan dirinya dan orang-orang di sekitarnya. Itu sebabnya seorang pekerja mulai menyindir dengan gaya lagu pujian Tuhan berkuasa, “Dia berkuasa... istrinya bersuka, anaknya bersuka....pekerja sengsara...” Ia lupa bagaimana susahnya ketika ia dulu masih menjadi pekerja yang kampungan. Ia marah ketika dikritik, dan melupakan bahwa dulu ia juga suka mengkritik.
            Saya tidak menunjuk kepada orang tertentu, tetapi kita semua memiliki kecenderungan untuk memanfaatkan ‘rasa nikmat’ yang dianugerahkan Allah kepada kita. Kita lebih cenderung menikmatinya sendiri dan menumpuk rasa nikmat itu dengan kemaruk daripada membaginya dengan orang lain yang pernah mengalami kesengsaraan seperti kita. Ketika kita di bawah, kita memprotes para pemimpin yang berada di atas dengan gaya hidup yang kita nilai tidak memberi teladan. Namun ketika kita di atas, kita cenderung melihat ke atas, tidak memperhatikan keadaan diri kita apalagi orang-orang yang berada di bawah kita. Satu hal lagi, setiap kita memiliki kecenderungan untuk me-nunjukkan kekuatan kita dengan menindas orang lain yang lebih lemah.
            Ingatlah, bila kita diberi kesempatan oleh Tuhan menduduki suatu jabatan atau menjadi seorang pemimpin, entah itu dalam dunia bisnis, kenegaraan atau pelayanan gerejani, jangan lupa diri. Jangan menjadi sombong dan lupa daratan. Jangan gunakan “aji mumpung” untuk memperkaya diri atau membangun kemegahan nama diri tanpa memperdulikan kehendak Allah atas diri kita. Jangan menjadi sewenang-wenang dan berlaku tidak adil. Semua itu tidak berkenan di mata Tuhan. Semua itu adalah penyebab doa kita tidak diperhatikan Allah, puasa dan ibadah kita sia-sia.
            Perhatikan Firman Tuhan dalam Yesaya 58, ada banyak kesalahan yang terjadi sehingga doa puasa umat Allah tidak berkenan kepada Allah. Ibadah kita pun tidak akan berkenan kepada Allah bila kita tidak bertindak sesuai dengan Firman-Nya. Perhatikan juga Yakobus 5:1-6, bukankah itu sudah cukup untuk membuat kita tidak menggunakan kekayaan, kekuasaan dan anugerah yang Tuhan berikan dengan semau kita sendiri? Kita tidak boleh berlaku tidak adil kepada orang yang lemah. Jangan berkata, mumpung saya berkuasa, saya akan menindasnya! Bayarlah apa yang menjadi hak para buruh, pegawai dan pekerjamu sesuai upah yang seharusnya mereka terima. Jangan bertindak lalim atau sewenang-wenang! Dan jangan gunakan kekayaan dan kedudukanmu sebagai sarana untuk berbuat dosa dan kejahatan di hadapan Allah!
            Jadilah pimpinan yang arif dan bijaksana. Jadilah atasan-atasan yang menghormati hak-hak para bawahan. Ambilah keputusan-keputusan yang bijak dan sesuai dengan Firman Allah, bukan kemauan diri sendiri. Berikan teladan yang baik, supaya banyak orang diberkati dan supaya Anda semakin dikasihi oleh Allah dan oleh para bawahanmu! - yoed’s

sumber gambar: http://kalaliterasi.com

YESUS BIKIN HIDUP LEBIH HIDUP


Seorang peminum berat suatu malam mabuk dan tertidur di kandang kuda, tetapi di sanalah ia bertemu dengan Yesus. Kemudian hidupnya berubah, ia menjadi seorang suami dan ayah yang baik bagi keluarganya. Perjumpaannya dengan Yesus telah mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Seorang wanita perokok dan peminum mendadak berubah drastis ketika suatu malam menghadiri sebuah KKR. Di kemudian hari ia menjadi wanita yang lembut dan rajin beribadah. Seorang pemuda pembunuh dijatuhi hukuman mati. Pada awalnya ia sangat buas dan sangar, tetapi suatu malam ia menangis tersedu-sedu bagitu menemukan Juruselamatnya. Esoknya ia terlihat bersikap baik dan penuh senyum.
            
Ketiga orang itu hanyalah sedikit contoh dari orang-orang pendosa yang kemudian “ditangkap” Tuhan dan diselamatkan dari kehidupannya yang penuh dosa. Hidup mereka berubah, sikap mereka berubah dan pandangan mereka akan kehidupan juga berubah. Semua ini terjadi karena mereka telah bertemu dengan Yesus, Juruselamat mereka. Hidup yang semula tampak kelabu, suram dan tampak tak ada harapan, tiba-tiba berubah cerah dan penuh warna. Mereka memang hidup, tetapi hidup mereka tak bisa dinikmati. Namun setelah Yesus masuk dalam hati mereka, membersihkan dosa-dosa mereka dan menyucikan mereka, semuanya tampak menjadi berbeda. Memang, Yesus ‘bikin hidup lebih hidup!
            
Ini bukan propaganda iklan rokok, karena benda ini tak bisa membuat hidup lebih hidup. Ini juga bukan untuk benda atau kenikmatan di atas muka bumi ini yang tampaknya membuat hidup menjadi lebih cerah dan penuh gairah. Tak ada! Tak ada satu hal pun dalam dunia kita ini yang menjanjikan harapan tentang hari depan kepada kita.
            
Hanya Yesus, tak ada yang lain, yang membawa kita pada keselamatan (Kisah Para Rasul 4:12). Tak ada pribadi yang bisa mengangkat dosa-dosa kita selain Dia. Tak ada sesuatupun yang mampu merubah warna merah hitam hati kita menjadi putih bersih. Tak ada lembaga asuransi manapun yang bisa menjamin keselamatan jiwa kita dari api hukuman kekal, selain janji Firman Allah. Tak ada sukacita dunia yang bisa membuat kita merasa bahagia dan damai selain sukacita sorgawi yang dianugerahkan Allah kepada kita. Singkatnya, hidup kita tak menjadi lebih hidup hanya karena kenikmatan, kesenangan dan kemewahan dunia ini.
            
Kita bisa lihat bukan, tidak sedikit orang berduit, punya jabatan, terkenal dan digandrungi banyak orang, yang stres, depresi, terlibat narkoba dan akhirnya mati sia-sia. Lebih mengenaskan lagi bila yang mengalami itu orang yang miskin, tak berduit, hidup susah dan pengangguran.
            
Oleh sebab itu, seharusnya kita bersyukur, kita memiliki sumber sukacita, sumber berkat dan sumber pengharapan: Yesus Kristus. Kalau Anda belum memilikinya, saya kuatir Anda belum benar-benar memiliki Yesus dalam hidup Anda. Apapun masalah kita dan bagaimanapun keadaan dunia ini, kita seharusnya tidak perlu takut dan kuatir. Sebab Yesus bikin hidup lebih hidup. Anda harus yakin itu!! (YD-02/03)

ASYIKNYA RAME-RAME


Seekor semut menemukan secuil roti. Baginya itu merupakan berkat yang luar biasa dari Tuhan. Ia ingin segera menyantapnya, tetapi ia ingat kawan-kawannya di rumah. Ia pun berusaha membawanya pulang. Namun roti itu terlalu besar dan berat baginya. Berkali-kali ia mencoba mengangkatnya, tetap saja roti itu tidak bergerak dari tempatnya. Si semut berlari ke sana-kemari untuk memanggil teman-temannya. Tidak lama kemudian telah terkumpul beberapa semut di sekeliling roti itu. Dengan bersemangat dan penuh kekompakan, mereka mulai mengotong roti itu. Beban yang semula terasa berat bagi seekor semut, sekarang menjadi terasa ringan, karena dibawa bersama-sama.
            
Melakukan sebuah pekerjaan yang berat, memang tidak mungkin diselesaikan seorang diri. Kehadiran teman sangat dibutuhkan untuk membantu meringankannya. Itulah sebabnya manusia dijuluki mahkluk sosial, mahkluk yang berinteraksi dengan sesamanya. Tak ada manusia yang bisa hidup seorang diri. Sekuat apapun dia, pasti membutuhkan kehadiran orang lain.
            
Dalam gereja pun dituntut kebersamaan. Itu sebabnya ada perintah kasihilah sesamamu manusia (Mat 22:39). Dan ada nasihat bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu (Gal 6:2). Melaksanakan amanat agung Yesus Kristus, yaitu memberitakan Injil, mengajar dan memuridkan juga dituntut sebuah kebersamaan. Ada orang yang bisa menginjil, tetapi tidak bisa mengajar, maka ia membutuhkan seseorang yang bisa mengajar, dan sebaliknya. Kalau sekarang, ada orang yang bisa berkhotbah, tetapi ia tidak bisa memimpin pujian, maka ia butuh seorang pemimpin pujian. Pekerjaan Tuhan tidak bisa dilakukan seorang diri. Kita butuh orang lain untuk membantu kita. Itu sebabnya seirng orang menyebut, melayani Tuhan itu bukan ‘single fighter’ tetapi sebuah’team’.
            
Coba Anda bayangkan jika Anda memimpin sebuah gereja dan Anda harus mengajar sekolah minggu, memimpin kaum muda, memimpin pujian, berkhotbah dan menjalankan kolekte sendiri, kira-kira apa yang terjadi? Anda pasti segera kehabisan tenaga. Anda akan lelah dan frustasi melayani Tuhan. Musa pernah mengalami hal ini. Ia memimpin bangsa Israel yang begitu banyak jumlahnya seorang diri. Sampai akhirnya, mertuanya menyarankan ia untuk membuat sebuah team pelayanan (Kel 18:13-26).
            
Sebuah team harus saling mengasihi. Sebuah team harus  saling berbagi. Sebuah team harus membuang keegoisan masing-masing. Sebuah team harus mengutamakan kepentingan bersama, bukan mencari keuntungan diri sendiri. Sebuah team harus tahu tempatnya masing-masing. Sebuah team harus dengan satu tujuan. Sebuah team harus saling toleransi, saling memaafkan, saling mendoakan dan saling menguatkan. Seperti sapu yang terkumpul dari banyak lidi, ia akan efektif untuk menyapu. Sebuah pelayanan yang terdiri dari banyak orang dengan kemampuan yang berbeda akan lebih efektif dalam menyelesaikan misi Tuhan di bumi ini.
            
Ketika kebersamaan dalam sebuah pelayanan telah tersusun rapi dan harmonis, kita akan berkata: melayani Tuhan asyiknya rame-rame.  yoed's

TIDAK MAU KE SORGA


Orang yang mempelajari sejarah masuknya orang-orang Spanyol ke Benua Amerika pasti akan mengenal Hernando Cortez. Ia adalah pemimpin pasukan Spanyol yang membawa banyak kemenangan ke mana saja ia pergi. Bahkan ia berhasil memperluas pengaruh kerajaan Spanyol di Benua Amerika.
                
Selama pendudukan Cortez di daerah Mexico pada awal tahun 1500-an, ada seorang pemimpin oposisi yang tertangkap, namanya Hatnay. Ia dijatuhi hukuman yang sangat berat, yaitu dibakar hidup-hidup.
                
Pada saat Hatnay diikat pada tiang pancang dan siap untuk dibakar, Hernando Cortez membujuk Hatnay untuk bertobat dan menjadi orang Kristen, supaya bila ia mati jiwanya bisa masuk ke sorga.
                
Hatnay menjawab dengan sebuah pertanyaan: “Apakah engkau kalau mati juga ingin masuk ke tempat yang disebut sorga itu?”
               
“Ya, tentu,” jawab Cortez “bukan hanya aku, tetapi juga seluruh anak buahku akan masuk ke sorga nanti setelah kami mati.”
                
Mendengar jawaban itu, Hatnay segera berkata: “Ah, kalau demikian, lebih baik aku tidak usah jadi Kristen saja, sebab aku sama sekali tidak mau pergi ke tempat di mana aku akan berjumpa kembali dengan orang-orang yang sangat kejam seperti kalian!”
                
Bukankah kita sering menjumpai orang-orang Kristen (mungkin kita juga) yang hidupnya tidak menunjukkan Kristus ada dalam hatinya? Mereka tidak memiliki kesaksian hidup walaupun mereka mengaku telah bertobat, hidup baru, rajin ke gereja, dibaptis Roh Kudus atau penuh dengan Roh Kudus. Bukan setiap orang yang mengaku Kristen yang akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa di Sorga (Mat 7:21).
                
Jadi, mengapa kita tidak menjadi teladan mulai hari ini, bukan hanya dalam perkataan saja, tetapi dalam seluruh segi kehidupan kita. Selamat Mencoba! - (yoed’s)