Seorang pria
berkisah tentang pengalamannya ketika dia baru bertobat dan mengikut Kristus:
Menjadi orang Kristen itu banyak tantangannya apalagi
bila kita tinggal dalam lingkungan masyarakat non-Kristen. Jangankan untuk
pergi ke gereja, untuk membawa Alkitab saja kita butuh kekuatan iman.
Pada saat saya mengambil keputusan untuk menerima
Kristus, menjadi Kristen dan meninggalkan kepercayaan saya yang lama, saya
banyak mengalami tantangan. Bukan hanya dihina, dikucilkan saja, tetapi saya
juga beberapa kali disidang oleh ketua kampung. Pernah juga saya mendapat
tekanan fisik dari beberapa orang yang masih terbilang sebagai keluarga saya.
Pada suatu Hari Minggu, saya sedang berjalan menuju ke
gereja yang letaknya 2 KM dari rumah saya. Saya berjalan kaki untuk menuju ke
sana dan harus melintasi tanah tegalan yang sepi. Saya menyelipkan Alkitab di
balik baju saya dan berjalan capat-cepat pagi itu. Kira-kira 1 KM saya
berjalan, tepat di tanah tegalan itu, ada tiga orang menghadang saya. Mereka
memakai topeng dan tidak jelas apa tujuan mereka menghadang saya. Salah seorang
dari mereka mengayunkan clurit ke dada saya. Tepat mengenai letak jantung. Saya
hanya bisa memejamkan mata dan menyerahkan hidup saya kepada Tuhan Yesus.
Tetapi ketika saya membuka mata saya, para penghadang saya telah meninggalkan
saya. Saya pikir saya sudah mati. Ternyata Alkitab yang saya selipkan di balik
baju saya itulah yang menyelamatkan saya. Sejak itu saya tidak pernah malu lagi
membawa Alkitab yang telah ‘menyelamatkan’ saya. Saya tidak malu dan takut lagi
membawa buku Firman Tuhan itu secara terang-terangan.
Masih banyak cerita lain yang berkisah seputar keajaiban
buku yang satu ini. Barangkali di antara Saudara juga pernah memiliki
pengalaman yang menakjubkan bersama Alkitab Saudara. Namun sayang, kenyataannya
ada sebagian orang Kristen yang enggan membawa Alkitabnya bila pergi ke gereja.
Ada yang ‘numpang’ istrinya, suaminya atau pacarnya. Lebih mengherankan
lagi ada yang pergi ke gereja malah membawa koran. Ketika pendeta berkhotbah,
ia bukan asyik membaca Alkitab atau mendengarkan khotbah, tetapi malah membaca
koran. Pojok ‘Nah Ini Dia’ ternyata lebih menarik ketimbang Suara
Kebenaran yang disampaikan dari atas mimbar.
Coba kita membandingkan sebentar dengan saudara-saudara
kita yang hidup di negara-negara yang tidak membebaskan mereka membaca Alkitab.
Mereka harus membacanya selembar demi selembar dan menyimpannya di balik
lipatan baju atau dalam topi mereka agar tidak terkena razia. Tetapi mereka
begitu antusias membaca dan merenungkannya. Mereka begitu menghargai
lembar-lembar Alkitab itu. Mengapa kita tidak, tokh kita di sini memiliki
kebebasan?
Bukankah Alkitab itu adalah Firman Allah yang berguna
menegur, menghibur mendidik dan mengajar kita dalam kebenaran? (baca 2 Tim
3:16). Melalui Firman Allah yang ajaib yang tertera dalam Alkitab, maka kita
diselamatkan. Kita juga dibebaskan dari berbagai ikatan dosa dan melalui
Alkitab pula kita mendapat pengajaran yang benar. Bayangkan seandainya tidak
ada Alkitab: Apa yang akan memenuhi
kehausan rohani kita? Apa yang akan dikotbahkan pendeta? Dari mana kita akan
mendapat pengajaran yang benar?
Sebelum datang masanya kita dilarang menyimpan, membawa Alkitab dan
membacanya, mengapa kita tidak mulai saja mencintai Alkitab kita yang telah
membawa kita kepada keselamatan? Bukankah dengan membawanya kita sudah sedikit
bersaksi kepada orang yang belum mengenal Kristus bahwa kita adalah
pengikut-Nya?**

EmoticonEmoticon