Dua utusan berjalan melintasi wilayah yang gelap dan
terasa panas karena api belerang. Bau daging terbakar dan jeritan jiwa-jiwa
yang tersiksa membuat bergidik siapa saja yang mendengarnya. Namun dua utusan
itu berjalan tenang. Salah satu dari utusan itu membawa sebuah gulungan surat
untuk disampaikan kepada seseorang di bumi. Setelah melintasi perjalanan yang
sangat jauh, kedua utusan itu tiba di depan pintu gerbang sebuah rumah yang
cukup mewah. Anjing penjaga menyalak keras, tetapi mereka berjalan tenang
melintasi pintu gerbang yang terkunci itu dan menembus dinding kamar seorang
gadis yang tengah tertidur lelap. Utusan yang memegang gulungan surat menepuk pundak gadis itu dan meninggalkan
gulungan surat itu di atas bantal, lalu kedua utusan itupun meninggalkan rumah
itu.
Lusi
terjaga dengan nafas terengah-engah. Keringat membasahi sekujur tubuhnya. Ia
merasakan semua itu adalah kejadian nyata. Ia seperti melihat kedua utusan itu
mengunjunginya dan meninggalkan gulungan surat di atas bantalnya. Lusi lebih
terkejut lagi ketika ia melihat di atas bantalnya benar-benar ada sebuah
gulungan kertas. Dengan gemetar ia membuka gulungan surat itu.
“Lusi,
kamu adalah sahabatku yang paling dekat selama ini. Kita hampir selalu bersama
setiap hari. Makan bersama, bercanda bersama dan berbagi duka bersama. Hanya
saja kamu tidak pernah memberitahuku bagaimana aku harus hidup baik. Kamu tidak
pernah mengatakan kepadaku tentang seorang Juruselamat yang dapat menyelamatkan
jiwaku setelah aku mati. Kamu egois, kamu hanya menyimpannya untuk dirimu
sendiri! Kamu tidak mengasihiku! Kamu membiarkan aku menghabiskan hidupku di
jalan yang sesat. Kamu membiarkan aku bercinta dengan orang yang salah dan
membuatku terjerumus dalam berbagai dosa. Sekarang aku sangat tersiksa dalam
api neraka. Setiap hari aku mendapat siksaan yang berat dari para setan yang
bermuka seram dan bengis. Kenapa kamu tidak pernah menceritakan kepadaku
tentang Yesusmu itu! Kamu jahat, Lusi.....”
Dari sahabatmu yang menderita,
Karina
Gulungan
kertas itu terlepas dari tangan Lusi. Wajah gadis itu tampak pucat. Badannya
gemetar dan basah oleh keringat dingin. “Ini tidak boleh terjadi,” gumamnya.
“Aku akan mengatakannya besok pagi. Aku harus mengatakannya besok pagi. Karina
harus selamat..” kata Lusi menenangkan dirinya. Kemudian gadis itu berusaha
untuk tidur kembali.
Pagi-pagi
sekali Lusi bangun. Ia segera megangkat pesawat telepon dan menghubungi rumah
Karina. “Apa Non Lusi belum melihat beritanya di televisi semalam?” terdengar
suara pembantu Karina dari seberang telepon. “Mobil Non Karina masuk jurang. Ia
meninggal semalam...” Lusi merasa tulang-tulangnya dilolosi. Ia lemas dan tak
sanggup berkata apa-apa lagi. Tak ada harapan lagi untuk menyelamatkan jiwa
sahabat karibnya itu.
Apakah Saudara memiliki seorang yang
sangat dekat saat ini? Apakah ia sudah selamat atau masih hidup dalam dosa? Dan
apakah Saudara sangat mengasihinya? Kalau Saudara benar-benar mengasihinya,
tentu Saudara akan menyelamatkan jiwanya. Kalau dia belum percaya Yesus, ceritakan
sekarang tentang Dia. Kalau dia sudah Kristen, tetapi masih hidup dalam dosa,
tegur dia sekarang dan kembalikan dia ke jalan kebenaran Allah. Ingatlah apa
yang tertulis dalam kitab Yehezkiel 3:18-21 (bacalah segera!). Saudara turut
bertanggung jawab atas dosanya. Peringatkan dia sekarang atau Saudara akan
kehilangan kesempatan. Bisa jadi keselamatannya tergantung pada diri Saudara!
***

EmoticonEmoticon