Coba bayangkan: Anda sedang duduk di
kursi malas atau di teras rumah, asyik membaca sebuah artikel atau sebuah
cerita dalam sebuah majalah atau koran. Bila Anda suka cerita kepahlawanan,
mungkin Anda akan membaca sebuah buku cerita yang memuat kisah kepahlawanan.
Makin membaca, Anda makin tertarik. Akan tetapi, ketika yang Anda baca mulai
mendekati klimaks, terbaca kata “BERSAMBUNG”. Betapa menyebalkan, bukan? Apalagi Anda tidak dapat membaca kisah
selanjutnya. Wah, Anda pasti akan merasa sangat kecewa.
Dulu,
ketika saya masih remaja, saya sangat menyukai cerita silat karangan Asmaraman
S. Ko Ping Ho. Buku yang ia tulis biasanya terdiri dari beberapa jilid yang
bersambung, untuk satu cerita. Saya pernah merasa penasaran dan akhirnya kecewa
karena kehilangan beberapa jilid dari cerita yang sedang saya ikuti. Seandainya
cerita itu hanya terdiri dari satu jilid, tentulah saya telah menyelesaikannya
dalam beberapa jam saja.
Sungguhpun
demikian, terkadang kata “bersambung” dapat mendatangkan sukacita.
Khususnya, pada saat orang percaya merenungkan berkat dan kasih Allah. Kata ini
akan menjadi sangat berarti dan sangat dinantikan.
Berdasarkan
hal itu Charles Hadon Spurgeon berkomentar, “Betapa senang bila kita
mengingat kebaikan dan kasih Allah yang terus bersambung. Betapapun lamanya
pengembaraan hidup kita, kasih-Nya yang abadi hidup lebih lama lagi. Kebaikan
yang dari Tuhan, adalah mata rantai tanpa akhir, arus yang selalu mengikuti
para pengembara, roda yang selalu berputar, bintang yang selalu bercahaya dan
mengantarkan kita ke tempat-Nya yang dulu lahir di Betlehem. Semua buku yang
mencatat berkat-berkat Allah merupakan satu seri yang selalu ‘bersambung.’
Hal
itulah yang membuat hidup kita begitu menarik. Berkat pengampunan-Nya selalu
bersambung. Anugerah kasih-Nya selalu bersambung. Penyertaan-Nya selalu
bersambung bagi kita yang mengasihi dan selalu berharap kepada-Nya. Dan adalah
suatu penghiburan juga bahwa segala yang menyakitkan, tidak akan bersambung.
Seperti yang pernah ditulis oleh seorang pengarang lagu “How Great Thou
Art”.
Hanya
saja, jangan sampai kita katakan “bersambung” bila kita melakukan suatu dosa.
Itu kejahatan di mata Allah. Kita harus “say good bye” untuk dosa dan
menyatakan tidak ada sambungannya lagi!
Ya, kita masih dapat menikmati
kasih-Nya setiap hari dan kita akan selalu menikmati kasih-Nya sepanjang waktu
hidup tanpa henti. Kita juga akan menikmati kemuliaan sorga selamanya, karena
segalanya akan “bersambung.” Kita akan terus merasakannya dalam kehidupan kita
hingga suatu saat kita sampai pada ujung jalan pengiringan kita kepada Allah.
Pada saat kita telah berkumpul bersama Yesus di rumah Bapa, pada saat itulah
kita baru menemukan kata “THE END”

EmoticonEmoticon