Saya pernah membaca sebuah buku yang
menceritakan sebuah legenda kuno. Legenda itu menceritakan tentang sebuah toko
milik seorang tukang kayu, yang tengah terjadi keributan dan melibatkan silang
pendapat antar peralatan yang berada di sana. Abang Palu ditegur oleh rekannya
bahwa ia harus pergi jauh-jauh karena ia selalu membuat bising.
Abang
Palu menjawab, “Jika saya harus meninggalkan tempat ini, maka abang bor juga
harus pergi. Ia tidak begitu berguna di sini, sehingga tidak berpengAruh banyak
bila ia pergi.”
Abang
Bor bangkit dan berkata, “ Baiklah. Tapi Abang Baut juga harus pergi daripada kalian
harus bersusah payah memutarnya bila ingin menggunakannya.”
Abang
Baut segera menyahut, “Jika itu yang kalian harapkan, maka saya akan pergi.
Tetapi, Abang Pengetam juga harus pergi. Sebab ia hanya mengerjakan pekerjaan
yang ada di permukaan saja.”
Terhadap
tuduhan itu, Abang Pengetam segera menjawab, “Yah, jika saya harus pergi, maka
Abang Penggaris juga harus pergi. Kerjanya selalu mengukur-ukur benda yang lain
seolah dirinya yang paling benar.”
Abang
Penggaris tak mau kalah, ia menyerang Abang Ampelas dengan berkata, “Saya tidak
peduli. Abang Ampelas lebih kasar dari yang seharusnya dan selalu menggesek
dengan cara yang salah.”
Di
tengah perdebatan itu, tiba-tiba datanglah Sang Tukang Kayu dari Nazaret. Dia
datang untuk melakukan tugas-Nya. Dikenakannya baju kerja-Nya, dan Dia pergi ke
bangku untuk membuat sebuah mimbar. Dia menggunakan gergaji, bor, pengetam,
palu, baut, ampelas serta peralatan lainnya. Tatkala pekerjaan hari itu
berakhir dan mimbar selesai dibuat, Abang Gergaji bangkit dan berkata,
“Saudara-saudara, saya rasa kita dipersatukan oleh Allah untuk bekerja sama.”
Apakah
kita berpikir bahwa Tuhan hanya mau menggunakan seorang pendeta, penginjil dan
murid-murid sekolah Alkitab saja untuk menyelesaikan misi-Nya di dunia? Tidak!
Tuhan akan menggunakan semua anak-anak-Nya untuk merampungkan misi-Nya atas
dunia ini. Tuhan memakai para hamba Tuhan, para penginjil, gembala jemaat dan
semua orang yang aktif dalam pelayanan mimbar, sebagai penggerak dan motivator
dalam mengabarkan injil. Tetapi para pelayan Tuhan juga membutuhkan pengusaha,
bisnisman, wiraswastawan, seniman, tehnisi, bahkan encim-encim yang
hanya bisa berdoa syafaat untuk pelayanan para hamba Tuhan. Para pelayan Tuhan
tidak dapat bekerja sendiri. Ia butuh penyumbang dana, perancang bangunan,
organisator, ahli di media cetak dan juga para pendoa syafaat untuk
menyelesaikan tugasnya.
Jadi
tidak ada yang perlu merasa dirinya istimewa! Ketika sebuah peperangan rohani
dimenangkan, sebuah misi diselesaikan atau sebuah pelayanan mencapai
keberhasilan, seharusnya tak seorangpun boleh menganggap dirinya paling
berperan. Semua itu hasil kerja kita bersama. Kita hanya sebagai alat-alat di
tangan Yesus “Sang Tukang Kayu” itu. Dialah yang paling berperan dalam
menyelesaikan suatu pekerjaan Allah. Tanpa Dia, kita hanya sebagai alat-alat
yang tidak berguna!
Bila kita sadar akan hal ini, tentu mulai saat ini kita tidak akan saling menyalahkan, tetapi saling menasihati dengan kasih; tidak saling menyikut, tetapi saling menghormati; tidak saling menjegal, tetapi saling mengasihi. Alangkah senangnya Tuhan bila melihat kita rukun, bekerja bahu membahu untuk meluaskan kerajaan-Nya di muka bumi. Betapa senangnya Tuhan bila melihat kita menabur bersama, menyiangi bersama, memupuk bersama dan menuai bersama dalam kasih. Tidak ada yang merasa dirinya paling penting dan tidak ada yang merasa dirinya tidak dibutuhkan. Tidak ada yang merasa distimewakan dan tidak ada yang merasa dianaktirikan. Alangkah hebatnya hal itu! Allah memakai kita semua dan setiap karunia kita yang unik.***

EmoticonEmoticon